Pernahkah Anda membayangkan sebuah perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang tidak hanya identik dengan ceramah agama, melainkan juga melibatkan ratusan bayi dan balita dalam sebuah prosesi penuh warna serta doa?
Fenomena unik ini dapat kita saksikan secara langsung di berbagai daerah Kalimantan Selatan, khususnya di Martapura, yang setiap tahunnya merayakan Baayun Mulud sebagai bagian tak terpisahkan dari peringatan kelahiran Rasulullah.
Ritual Baayun Mulud secara harfiah berarti mengayun bayi saat Maulid, sebuah tradisi turun-temurun masyarakat Banjar yang telah diwariskan dari generasi ke generasi dengan penuh kekhidmatan dan kebahagiaan.
Ribuan orang tua dari berbagai penjuru wilayah rela datang membawa anak-anak mereka yang berusia mulai dari beberapa hari hingga balita untuk diikutsertakan dalam ritual sakral ini.
Baca Juga:
Mengarungi Barito: Napas Kehidupan Kalimantan yang Tak Lekang Waktu
SWI Group mempercepat transformasi menuju Infrastruktur Digital
Bayi-bayi tersebut akan dibaringkan dalam ayunan khusus yang dihias sedemikian rupa menggunakan kain berwarna-warni, janur kuning, bunga melati, dan aneka dekorasi lain yang mempercantik tampilannya.
Setiap ayunan bukan sekadar tempat tidur gantung, melainkan simbol harapan dan doa agar anak-anak tumbuh sehat, cerdas, berbakti kepada orang tua, serta memiliki akhlak mulia seperti Nabi Muhammad SAW.
Para ibu dan ayah dengan penuh kesabaran mengantre panjang sambil menggendong buah hati mereka, menunggu giliran untuk mendapatkan berkah dari para tetua adat atau ulama yang memimpin jalannya ritual.
Prosesi ini biasanya diawali dengan pembacaan syair-syair Maulid atau Barzanji yang melantunkan kisah hidup Rasulullah, menciptakan suasana syahdu dan sarat akan nilai-nilai keislaman.
Kemudian, secara bergantian, bayi-bayi itu akan diayunkan perlahan oleh para pemuka agama atau orang yang dituakan, diiringi lantunan salawat serta doa-doa keselamatan dan keberkahan bagi sang anak.
Tidak jarang, para orang tua juga membawa sesajen berupa makanan tradisional khas Banjar seperti kue cucur, apam, atau buah-buahan sebagai wujud rasa syukur dan harapan baik.
Filosofi di balik Baayun Mulud begitu mendalam, mencerminkan kearifan lokal yang memadukan akulturasi budaya pra-Islam dengan ajaran Islam dalam satu harmoni yang indah.
Pada masa lampau, sebelum Islam masuk, masyarakat Banjar memiliki tradisi mengayun anak dengan harapan terhindar dari penyakit serta mendapatkan perlindungan dari roh-roh jahat.
Baca Juga:
Senam Baiman: Kebugaran Tubuh, Kekuatan Komunitas, dan Kearifan Lokal
ICP DAS-BMP Pamerkan Inovasi TPU Medis di Ajang Medical Manufacturing Asia 2026
Setelah Islam datang, tradisi ini kemudian diselaraskan dengan nilai-nilai keislaman, di mana doa-doa Islami dan salawat kepada Nabi Muhammad SAW menjadi bagian inti dari ritual tersebut.
Hal ini menunjukkan bagaimana Islam mampu beradaptasi dan memperkaya budaya lokal tanpa menghilangkan esensi keaslian tradisi masyarakat Banjar yang sudah ada.
Makna Mendalam di Balik Hiasan Ayunan
Setiap elemen hiasan pada ayunan dalam tradisi Baayun Mulud ternyata memiliki makna simbolis yang sangat dalam, bukan hanya sekadar estetika belaka untuk memanjakan mata.
Kain-kain berwarna cerah yang menghiasi ayunan melambangkan kegembiraan dan keceriaan, harapan agar kehidupan sang anak selalu diwarnai kebahagiaan serta keberkahan.
Janur kuning yang sering terlihat di sekitar ayunan merupakan simbol kesucian dan kemurnian, memohon agar anak selalu menjaga diri dari perbuatan buruk dan memiliki hati yang bersih.
Bunga melati yang harum semerbak menjadi lambang keharuman nama dan akhlak, agar sang anak kelak tumbuh menjadi pribadi yang baik dan disegani oleh masyarakat sekitarnya.
Beberapa ayunan bahkan dihiasi dengan mainan tradisional atau replika hewan seperti burung, yang melambangkan kebebasan dan cita-cita tinggi agar anak dapat meraih impiannya.
Semua pernak-pernik ini dipersiapkan dengan penuh cinta dan harapan oleh para orang tua, menunjukkan betapa besar keinginan mereka untuk memberikan yang terbaik bagi masa depan anak.
Mengayunkan bayi dalam ritual ini juga diyakini sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, sekaligus meneladani kasih sayang beliau kepada anak-anak.
Peringatan Maulid Nabi menjadi momentum yang tepat untuk mengajarkan nilai-nilai kebaikan, ketaatan, dan kecintaan kepada Rasulullah sejak dini kepada generasi penerus.
Momen Baayun Mulud juga menjadi ajang silaturahmi yang erat antarwarga, memperkuat tali persaudaraan dan kebersamaan dalam balutan suasana religius yang hangat.
Para peserta dan penonton berkumpul bersama, saling bertegur sapa, serta berbagi cerita mengenai pengalaman mengikuti tradisi yang telah mengakar kuat ini selama bertahun-tahun.
Melalui Baayun Mulud, masyarakat Banjar tidak hanya merayakan Maulid Nabi, tetapi juga merayakan kehidupan, harapan, dan masa depan generasi penerus bangsa yang lebih baik.
Tradisi ini adalah cerminan kekayaan budaya Indonesia yang tiada tara, sebuah warisan leluhur yang patut dijaga dan dilestarikan agar tidak lekang dimakan oleh zaman modern.
Jadi, apabila Anda berkesempatan berkunjung ke Kalimantan Selatan pada bulan Rabiul Awal, jangan lewatkan pengalaman menyaksikan langsung kemegahan Baayun Mulud yang memesona ini.
Rasakan aura spiritual dan kehangatan kebersamaan yang terpancar dari setiap senyum bayi, setiap lantunan doa, serta setiap ayunan yang membuai harapan masa depan bangsa.






